Kapten Kapal Asal Luwu Dilaporkan Hilang di Selat Hormuz, Keluarga Tunggu Kabar dari KBRI

POROSCELEBES.COM, LUWU – LUWU – Seorang warga asal Desa Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.

Korban diketahui bernama CAPT Miswar Maturusi, yang bekerja sebagai kapten kapal tugboat Musaffah 2 milik perusahaan Abu Dhabi Port.

Bacaan Lainnya

Kabar hilangnya Miswar pertama kali diterima keluarga pada Jumat (7/3/2026) sekitar pukul 10.00 Wita. Informasi tersebut disampaikan oleh rekan kerja korban di dunia pelayaran.

Sepupu korban, Sumarlin Ahmad (21), mengatakan Miswar merupakan sosok kepala keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarganya.

“Beliau adalah kepala keluarga dengan satu orang istri dan dua orang anak. Selain menafkahi keluarganya, beliau juga membantu menyekolahkan anak-anak dari sepupu dan keponakannya,” kata Sumarlin kepada wartawan, Sabtu (7/3/2026).

Istri korban diketahui bernama Marliani Ahmad, sementara kedua anaknya adalah Muhammad Qiratul Miswar dan Muhammad Hayatullah Miswar.

Menurut Sumarlin, anak pertama Miswar bahkan telah mengikuti jejak pengabdian kepada negara setelah resmi menjadi anggota kepolisian sejak tahun lalu dan bertugas di Polda Sulawesi Selatan.

“Anak pertamanya sudah menjadi polisi sejak tahun lalu di Polda Sulsel,” ujarnya.

Sumarlin menjelaskan, komunikasi terakhir korban dengan keluarga terjadi pada Rabu lalu. Saat itu Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya dan memberi tahu rencana pelayaran yang akan dilakukannya.

“Terakhir kali kontak dengan istrinya hari Rabu. Beliau menyampaikan bahwa akan melakukan perjalanan menuju lokasi kerja,” kata Sumarlin.

Pada Kamis siang, sekitar pukul 13.00 Wita, korban masih sempat membaca pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.

“Pesannya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” ujar dia.

Dari informasi keluarga, Miswar berangkat berlayar sejak 18 Februari 2026. Perjalanan menuju lokasi kerja diperkirakan memakan waktu sekitar satu hari.

Selama ini, Miswar diketahui bekerja di pelabuhan Abu Dhabi sebagai pemandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.

“Informasi yang kami dengar sebelumnya, beliau biasanya bekerja memandu kapal besar yang masuk ke pelabuhan Abu Dhabi,” kata Sumarlin.

Ia juga menyebut pelayaran menuju Selat Hormuz kali ini diduga menjadi perjalanan yang cukup jauh bagi Miswar dibandingkan pekerjaan sebelumnya yang lebih banyak dilakukan di area pelabuhan.

Berdasarkan informasi awal yang diterima keluarga, kapal yang dinakhodai Miswar diduga mengalami insiden di tengah pelayaran.

Kabar tersebut disampaikan oleh rekan korban bernama Kapten Ismail, yang menghubungi keluarga pada Jumat pagi.

“Informasi awal yang kami terima, kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut,” kata Sumarlin.

Meski demikian, hingga kini keluarga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian tersebut.

Ada yang menyebut kapal Musaffah 2 sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Abu Dhabi untuk proses evakuasi, sementara versi lain menyebut kapal itu hendak menjalani perbaikan atau pengelasan setelah mengalami kerusakan.

“Informasi yang kami dengar ada beberapa versi. Ada yang mengatakan kapal itu akan dievakuasi ke pelabuhan Abu Dhabi, ada juga yang mengatakan kapal itu dibawa untuk diperbaiki,” ujarnya.

Dalam pelayaran tersebut, dua kapal dilaporkan berangkat bersama, yakni Musaffah 2 dan Musaffah 1. Kapal yang dinakhodai Miswar disebut berangkat lebih dulu.

“Musaffah 2 berangkat lebih dulu. Kapal yang satunya lagi belum sampai ke lokasi, mungkin sudah dapat informasi bahwa Musaffah 2 hilang kontak,” kata dia

Menurut Sumarlin, Miswar telah lama berkecimpung di dunia pelayaran. Ia diperkirakan sudah bekerja di sektor tersebut selama lebih dari dua dekade.

“Setahu saya sekitar 26 tahun beliau bekerja di dunia pelayaran. Sejak menikah sudah berlayar, bahkan sebelum menikah juga sudah,” ujarnya.

Sebelum hilang kontak, korban sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi.

“Beberapa kali beliau menyampaikan bahwa sistem GPS di kapalnya mengalami eror. Bahkan sempat mengatakan melihat sesuatu dan meminta dipandu, tapi ternyata tidak ada,” kata Sumarlin. Tak lama setelah itu, komunikasi dengan kapal tersebut terputus.

Keluarga mengaku hingga saat ini belum menerima keterangan resmi secara tertulis dari pihak perusahaan. Informasi masih disampaikan secara lisan melalui rekan korban yang menjadi perantara komunikasi.

Namun, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) disebut telah mulai menghubungi keluarga untuk mengumpulkan data.

“Tadi ada dari pihak KBRI yang menelpon menanyakan alamat lengkap keluarga. Mereka bilang akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana,” ujar Sumarlin.

Keluarga berharap pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian korban secepat mungkin.

“Kami berharap pihak kedutaan bisa membantu menemukan korban dan memberikan informasi yang jelas kepada keluarga,” kata Sumarlin.

Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari pencarian tersebut.

“Walaupun harapan terbesar kami tentu beliau bisa ditemukan dalam kondisi selamat,” ujarnya.

Saat ini, keluarga di kampung halaman hanya bisa menunggu kabar sambil terus berupaya mencari informasi mengenai kondisi korban.

“Langkah yang kami lakukan sekarang hanya mencari informasi dan menunggu perkembangan kabar,” kata Sumarlin.

Pos terkait