Konflik Timur Tengah di Selat Hormuz, Dua Pelaut WNI Asal Luwu Diduga Jadi Korban Serangan Drone

POROSCELEBES.COM, LUWU – Dua warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah. Keduanya diduga menjadi korban insiden serangan drone di tengah meningkatnya ketegangan perang antara Israel yang didukung Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung sekitar sepekan terakhir.

Konflik tersebut turut berdampak pada aktivitas pelayaran di kawasan strategis Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sejumlah laporan menyebutkan beberapa kapal mengalami ledakan akibat serangan rudal maupun drone.

Bacaan Lainnya

Salah satu kapal yang diduga terdampak adalah kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab milik perusahaan Abu Dhabi Port. Kapal tersebut diketahui memiliki tujuh orang kru, dua di antaranya merupakan warga Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Kedua kru tersebut adalah Capt. Miswar Maturusi M. Mar, warga Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, serta CE. Sirajuddin, warga Temboe, Kecamatan Larompong Selatan. Keduanya dilaporkan hilang setelah insiden yang diduga serangan drone saat kapal berada di jalur pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz.

Istri Capt. Miswar, Marliani Ahmad, mengatakan hingga kini keluarga belum bisa memastikan kondisi suaminya. Informasi sementara yang diterima menyebutkan suaminya masih dinyatakan hilang.

Marliani mengungkapkan, kabar mengenai insiden tersebut pertama kali diterima keluarga pada Jumat (7/3/2026) sekitar pukul 10.00 WITA dari rekan kerja suaminya di dunia pelayaran.

“Informasi itu disampaikan oleh rekan satu perusahaan suami saya yang menghubungi melalui ponsel anak kami,” ujar Marliani saat ditemui media, Senin (9/3/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis pagi. Saat itu Miswar masih sempat berbicara dengan istrinya dan memberi tahu rencana pelayaran yang akan dilakukan.

Pada Kamis siang sekitar pukul 13.00 WITA, Miswar diketahui masih sempat membaca pesan dari anaknya melalui aplikasi percakapan. Namun pesan tersebut tidak sempat dibalas.

“Pesannya sempat dibaca, tapi tidak sempat dibalas. Setelah itu sudah tidak ada lagi kabar,” ungkap Marliani.

Selama ini Miswar diketahui bekerja di pelabuhan Abu Dhabi sebagai pemandu kapal-kapal besar yang hendak masuk ke pelabuhan.

Menurut Marliani, insiden yang menimpa suaminya terjadi saat kapal yang dinakhodai Miswar berada di ujung Selat Hormuz dan sudah mendekati wilayah Oman, negara tetangga Iran yang dipisahkan oleh Selat Hormuz.

Kapal tersebut diduga terkena serangan drone tempur, meskipun hingga kini belum diketahui asal drone tersebut.

Sementara itu, keluarga juga masih menerima berbagai versi informasi mengenai kejadian tersebut. Bahkan, istri dari rekan satu kapal Miswar, yakni CE. Sirajuddin, telah datang ke rumah Marliani untuk mencari kabar mengenai kondisi suaminya.

“Tadi ada istri dari Bapak CE. Sirajuddin datang ke rumah bersama anaknya. Beliau juga belum menerima informasi yang pasti dan masih menunggu kabar dari perusahaan maupun pihak KBRI,” katanya.

Marliani menjelaskan bahwa suaminya telah lama berkecimpung di dunia pelayaran dan diperkirakan telah bekerja di sektor tersebut selama lebih dari dua dekade, atau lebih dari 20 tahun.

Sebelum hilang kontak, Miswar juga sempat menyampaikan kepada rekan-rekannya bahwa kapal yang dipimpinnya mengalami gangguan pada sistem navigasi.

Hingga saat ini keluarga mengaku belum menerima keterangan resmi secara tertulis dari pihak perusahaan. Informasi yang diterima masih sebatas penyampaian lisan dari rekan korban yang menjadi perantara komunikasi.

Meski demikian, pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia disebut telah menghubungi keluarga untuk mengumpulkan data terkait korban, meskipun belum dapat memastikan kondisi kedua WNI tersebut.

“Sudah ada dari pihak KBRI yang menelepon menanyakan alamat lengkap keluarga. Mereka bilang akan menyampaikan jika ada perkembangan informasi dari sana,” ujar Marliani.

Keluarga berharap pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di luar negeri dapat membantu proses pencarian korban secepat mungkin.

Meski demikian, keluarga mengaku siap menerima apa pun hasil dari proses pencarian tersebut. Namun mereka tetap berharap ada keajaiban agar kedua korban dapat ditemukan dan kembali ke kampung halaman.

Saat ini keluarga di Luwu hanya bisa menunggu kabar sambil terus berupaya mencari informasi mengenai kondisi kedua korban.

Pos terkait