POROSCELEBES.COM, LUWU – Keluhan warga Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, soal debu akibat pengerjaan galian kabel listrik mendapat respons.
Penyiraman jalan kini diperkuat dengan melibatkan armada milik warga dan PLN untuk mengurangi debu di sekitar lokasi pekerjaan.
Pengerjaan kabel listrik tanam di wilayah tersebut sebelumnya dikeluhkan warga.
Sebab material hasil galian yang berada di sekitar jalan membuat debu semakin mudah beterbangan.
Terlebih dalam dua bulan terakhir hujan belum turun di wilayah Kabupaten Luwu.
Kondisi itu mendorong adanya komunikasi antara pemerintah desa dan PLN Nusa Daya yang terlibat dalam pekerjaan pemasangan kabel.
Salah satu langkah yang disepakati ialah melakukan penyiraman jalan secara rutin.
Kepala Desa Saronda, Abdul Azis (50), mengatakan penyiraman dilakukan untuk mengurai debu, terutama pada titik-titik yang menjadi lokasi pengerjaan galian kabel.
“Terkait pengerjaan pemasangan kabel listrik, kami sudah berkomunikasi dengan pihak PLN. Salah satu yang disepakati adalah penyiraman untuk mengurai debu dengan memanfaatkan masyarakat,” kata Abdul Azis kepada awak media, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, dua armada milik warga telah difungsikan untuk penyiraman.
Selain itu, satu armada dari PLN turut melakukan hal serupa.
Dengan demikian, terdapat sedikitnya tiga armada yang secara rutin melintas untuk membasahi jalan di sekitar lokasi pekerjaan.
“Penyiraman dilakukan empat sampai lima kali, terutama di titik lokasi pengerjaan galian kabel PLN. Yang difungsikan itu mobil warga, termasuk mobil PLN sendiri,” ujarnya.
Abdul Azis menilai langkah tersebut telah berjalan maksimal. Penyiraman mengikuti kondisi jalan. Ketika permukaan jalan kembali kering, armada penyiram kembali melintas.
“Setiap kering, mobil kembali melintas untuk melakukan penyiraman di Desa Saronda,” katanya.
Selain persoalan debu, pemerintah Desa Saronda juga telah membicarakan dampak pengerjaan terhadap drainase di sekitar lokasi.
Abdul Azis mengatakan perbaikan drainase nantinya akan melibatkan tenaga kerja lokal. Pemerintah desa diminta menyiapkan warga yang siap bekerja dalam proses perbaikan tersebut.
“Untuk kerusakan drainase, kami juga sudah bicara bahwa perbaikan nanti akan diambil oleh pekerja lokal. Kami diminta menyiapkan tenaga kerja yang siap,” kata Abdul Azis.
Salah satu warga yang terlibat langsung dalam penanganan debu tersebut adalah Haikal, 21 tahun.
Ia mengemudikan mobil pikap yang telah dimodifikasi untuk membawa tandon air.
Sebuah tandon berkapasitas 900 liter ditempatkan di atas bak mobil.
Air dari tandon kemudian dialirkan melalui pipa yang dipasang melintang di bagian belakang kendaraan.
Pipa itu diberi sejumlah lubang agar air dapat menyebar ke permukaan jalan ketika kendaraan bergerak.
Haikal mengatakan ia dapat melakukan penyiraman hingga 10 kali dalam sehari. Setiap kali penyiraman, tandon harus kembali diisi.
“Sepuluh kali saya menyiram dalam sehari. Sepuluh kali pengisian juga. Berarti sekitar sembilan ton air yang disiram setiap hari,” kata Haikal.
Aktivitas tersebut berlangsung sejak pagi hingga sore. Haikal mulai bekerja sekitar pukul 07.00 Wita dan berakhir pada pukul 17.00 Wita.
“Alhamdulillah, pekerjaan penyiraman lancar,” ujarnya.
Langkah penyiraman tersebut menjadi respons atas masukan warga yang sebelumnya merasakan peningkatan debu di sekitar lokasi pengerjaan.
Bagi pemerintah desa, keberadaan armada penyiram menjadi penting selama pekerjaan berlangsung.
Penyiraman kini menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak aktivitas galian terhadap warga yang beraktivitas di sepanjang jalan Desa Saronda.
Selain armada warga, keterlibatan armada PLN membuat penyiraman dapat dilakukan lebih sering pada titik-titik yang menjadi lokasi pekerjaan.















